Selasa, 26 Juni 2018

Bagian II

Motu Paia…Trim dan Pridd Yang Perkasa


Sesampai di rumah, Radeya segera mencari Kakeknya, Suta. Dirundung rasa penasaran tanpa basa – basi Radeya menceritakan peristiwa yang baru dialaminya kepada Suta “Kakek, saya tadi dari kuil Kakek Hekima yang Bijak, beliau berkata ternyata Kakek Hekima dan Yajaka yang Hilang bukanlah anggota Klan Mata Putih yang tersisa. Klan Mata Putih masih hidup dengan banyak jumlahnya, apa maksudnya kakek?” Tanya Radeya. “Suatu saat cucuku, kamu akan menemukan jawabannya jika kamu sudah tahu mengapa air danau Sustento selalu jernih” Jawab Suta. Rasa penasaran Radeya pun semakin menjadi jadi “Mengapa air danau Sustento selalu jernih kek?”, “Maka cari tahulah apa yang akan kamu ketahui”, “Apa? Kakek sama seperti Kakek Hekima, buat saya makin penasaran saja”, “Setidaknya perkataanku dan Hekima jadi petunjukmu cucuku, pergilah keluar dan cari tahu, carilah jawaban dari seluruh penjuru Planet Mata”. Radeya pun pamit pergi dari kakek dan neneknya, dengan bekal seadanya dia menuju pelabuhan Isango, pusat berlabuhnya kapal – kapal di Pulau Chapda. Tujuan pertama dia adalah pulau gersang Motu Paia.

Isango, pelabuhan tertua dan terbesar yang ada di pulau Chapda, pusat distribusi transisi komoditas perdagangan dari seluruh pulau – pulau planet Mata. Dari pelabuhan yang berusia kurang lebih 1000 Dzuwa inilah para klan planet Mata menyebar dan membangun peradaban di pulau – pulau luar Chapda, termasuk Motu Paia.

Radeya dengan semangatnya menuju dermaga tujuan Motu Paia, terletak paling ujung dari keseluruhan dermaga Isango. Sesampainya di dermaga tersebut, Radeya bertanya ke seorang tua bernama Trim, kapten kapal satu – satunya tujuan Motu Paia, Pridd. “Kakek, berangkat jam berapa kah nanti?” Tanya Radeya, “Oh, umurmu berapa nak?” Trim balik bertanya, “Anak berumur 15 Dzuwa kebawah harus ada pendamping jika mau naik kapal saya” lanjut dia. “Tenang kek, umur saya 17 Dzuwa saat kuil Zhitixo belum berdiri, saya ikut pembangunan kuil tersebut, jadi saya sekarang sudah hamper 18 Dzuwa. Tak perlu lagi pendamping kek” Sahut Radeya. “Jadi, biayanya 500 Okopara anak muda. Kamu punya?” Tanya Trim lagi. “Emmmm, saya hanya punya 350 Okopara kek, untuk kekurangannya saya bisa bekerja di kapal selama perjalanan ke Motu Paia” Jawab Radeya “Saya bisa bekerja apa saja kek” Timpal dia lagi. “Baiklah jika itu maumu, sebentar lagi kita berangkat, masih menunggu ada satu orang lagi dari bukit Fovea” Kata Trim. “Bukit Fovea? Bukankah itu tempat tinggal kakeh Hekima Yang Bijak?” Tanya Radeya sambil mngernyitkan dahi. “Ehmmmm, nanti kamu tahu sendiri nak. Sekarang bersihkan dulu kursi penumpang untuk kerja awalmu” Sahut Trim. “Baik kek” Jawab Radeya, segera dia pergi ke kapal untuk bekerja.

Tak lama setelah Radeya naik Pridd, datanglah seorang tua berjalan dengan tongkat di tangan kanannya, sambil menyibak jubahnya dia berkata “Maaf membuatmu menunggu lama”, “Oh, tak apa kawanku. Kapal juga masih dibersihkan kok” Sahut Trim sambil memeluk orang tua berjubah tadi “Bagaimana kabarmu? Tidak biasanya kamu keluar dari kuilmu dan mendadak pergi ke Motu Paia”, “Hehehe, meski ubanku lebih banyak darimu saya masih kuat jalan kaki dari Fovea ke Isango sini, nanti kau akan tahu sendiri Trim. Anak yang kau suruh bersihkan kapal itulah jawabannya, hahahaha” Sambil mengelus jenggotnya, Hekima Yang Bijak terkekeh kekeh, “Kau memang penuh misteri kawan” gumam Trim “Marilah kita berangkat, kapal sudah siap”, “Hei para Malakas, siapkan layarnya! Kita berangkat sekarang” Perintah Trim ke anak buahnya. Perjalanan ke Motu Paia dimulai.

“Kakek Hekima!!” Pekik Radeya seraya bergegas menghampiri Hekima Yang Bijak dan segera mencium tangannya sebagai tanda hormat, “Kenapa kakek keluar dari kuil? Bukankah kakek selalu berada disana tak pernah keluar kecuali diundang kaisar” Tanya Radeya penasaran, “Hehe, jadi kamu ke Motu Paia juga nak?” sambil terkekeh Hekima Yang Bijak malah bertanya balik ke Radeya. “Kakek Hekima belum jawab pertanyaan saya. Saya ke Motu Paia karena kakek Suta bilang saya akan menemukan jawaban rasa penasaran di seluruh penjuru planet ini, saya mulai dari sana” Sahut Radeya dengan rasa penasaran yang menjadi – jadi. “Setelah kita berlabuh di Motu Paia, kamu ikut aku nak, rasa penasaranmu akan terjawab nantinya” Jawab Hekima. Kapal berlayar perlahan – lahan meninggalkan pulau Chapda yang katupnya mulai menutup. Sang Kalpa berdetak pelan mengiringi perjalanan mereka mengarungi Samudera Vitreous yang luas.

Samudera Vitreous,
Lautan yang menyelimuti hampir keseluruhan planet Mata, sumber kehidupan maupun pelindung, penghubung pulau – pulau di dalamnya. Samudera maha luas dengan air yang tenang namun siap memangsa para pelaut – pelaut yang lemah dan terlena.

Katup pulau Chapda telah menutup, Sang Kalpa berdetak konstan pelan, Pridd terus berjalan mengangkut penumpang – penumpangnya. Sang kapten, Trim terus terjaga memegang kendali kapal. Malam itu, Radeya tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, rasa lelah setelah bekerja sambilan di kapal tak membuatnya mengantuk karena rasa penasarannya belum terjawab, dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di Motu Paia. Dia bangkit dari ranjangnya, keluar dari kamar dan segera menuju anjungan tempat Kapten Trim mengemudikan Pridd. “Hei nak, kau tak tidur?” Tanya Trim, “Saya tidak bisa tidur kek, rasa penasaran saya semakin menjadi – jadi gara – gara siang tadi” Jawab Radeya. “Yasudah pegang kemudi ini dulu kalau begitu nak” Perintah Trim, Sanggah Radeya “Tapi kek, saya belum pernah…”, “Tenang saja nak, saya dibelakang mu mau istirahat sebentar. Sudah pegang ini nak” Potong Trim sebelum Radeya melanjutkan sanggahannya, “Baiklah kalo itu begitu kek” Sahut Radeya segera dia memegang roda kemudi kapal. “Sudah lama memegang kapal ini kek?” Tanya Radeya berbasa – basi, “Kapal ini lahir karenaku nak, jadi jangan tanya tentangku. Tanyalah tentang kapal ini” Jawab Trim.

“Maksudnya kek? Kakek Trim yang membuat kapal ini?”,
“Itu benar nak, saya jugalah yang menamai kapal ini, Pridd Yang Perkasa Sang Pembelah Samudera. Kapal ini dulu mengangkut anggota Klan Mata Putih yang ingin ke Chapda atau sebaliknya pulang ke Motu Paia, sampai bencana itu terjadi. Saya juga tidak mengerti mengapa meteor sebesar itu tidak terdeteksi sensor Zid. Para penjaga Zid juga tidak tahu mengapa meteor itu bisa melewati sensor super mereka. Yang aneh, meteor itu ikut lenyap bersama lenyapnya peradaban Motu Paia. Tidak ada jejak sama sekali, tidak ada yang bisa diselidiki sama sekali, semua masih jadi misteri hingga sekarang, saya pun perlahan mulai melupakannya nak, biarlah itu menjadi dongeng cerita yang bisa kita ambil hikmahnya. Klan Mata Putih yang tersisa pun hanya bisa pasrah diam menerima segala kenyataan itu. Kawanku, Hekima Yang Bijak pun tidak bisa kutanyai lebih dalam, yasudahlah…Eh nak, coba cek arah kapal itu masih sesuai jalur tidak?”
“Oh iya kek, saya lupa. Hampir kita melenceng dari jalur, maafkan saya kek” Pinta Radeya, “Taka apa nak, itu sudah bagus untuk seorang yang baru mengemudi kapal sehebat ini” Sahut Trim.

Kapal terus melaju menuju Motu Paia.

Kamis, 21 Juni 2018

Bagian I

Kasta tak bernama…Seorang anak bernama Radeya

Pulau Chapda, 299 Dzuwa

Bising roda menderu menggelinding membawa kereta bermuatan pasir menuju bukit Kornea, pembangunan kuil masih berlanjut. Deretan budak - budak dari Klan Mata Hitam bekerja dengan peluh di sekujur tubuhnya, siang itu sang Kalpa berdenyut kencang, sinarnya menyengat menghanguskan hewan - hewan pengurai yang bermunculan ke permukaan karena tanah yang panas. "Plasss" suara cambukan pengawas bernama Brgadora dari Klan Mata Merah mengenai pelipis seorang anak muda, kira - kira berumur 15 Dzuwa. Radeya, nama anak itu tidak mengindahkan cambukan yang melukainya, dia terus berjalan walaupun kerongkongannya kering dan sempat terjatuh, sebab dia kena cambukan tadi.

"Jalan terus bodoh!!! Tak ada minum sebelum tumpukan batu itu setinggi 23 hasta", teriak Brgadora menegaskan peraturannya. Berduyun - duyun budak - budak menumpuk batu yang sudah dipikulnya itu, tak ketinggalan Radeya juga melakukan hal yang sama, kemudian dia menghitungnya dan seketika matanya yang hitam berbinar sekejap berwarna terang walau tak ada yang menyadarinya. Dia bersorak kegirangan karena tumpukan batu sudah setinggi lebih dari 23 hasta "25 hasta!! 25 hasta!!", Sorak dia. Seketika budak - budak berlarian menuju kolam berlomba - lomba meminum airnya. Brgadora yang dari tadi berdiri mengawasi budak - budak itu juga berlari ke arah kolam air tersebut. Sembari mengunyah daging bakar yang di bawanya, Brgadora mengambil 1 gentong air buat dia minum. Sungguh, meskipun Brgadora seorang pengawas pekerjaan, dia juga tak bisa minum sebelum target tinggi batu 23 hasta belum tercapai. Sebagai anggota Klan Mata Merah yang menjunjung tinggi kesetiaan dan tanggung jawab, dia selalu mendahulukan tugasnya sebagai seorang prajurit dan selalu melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya. "Maafkan aku tadi nak, aku tak bermaksud melukaimu" Gumam Brgadora di telinga Radeya sambil meminum air yang diambilnya tadi. "Tidak apa - apa pak tua, itu sudah kewajibanmu. Bagi kami, klan dengan tingkatan terendah ini, hanya klan kalianlah yang selalu dekat dan mengerti kami" Balas Radeya.

Denyut sang Kalpa sudah mulai pelan, dan sinarnya mulai meredup, menandakan pekerjaan pembangunan kuil di bukit Kornea harus diberhentikan sementara, gelap mulai menyelimuti sebagian planet Mata, katup pulau Chapda mulai menutup. Semua klan yang ada di pulau tersebut mulai menuju tempat peristirahatan masing - masing. Klan Mata Merah kembali ke barak pemukiman Dzimba barat daya bukit Kornea. Sedang klan Mata Hitam, klan yang dianggap tak berharga selain menjadi budak pekerja, berbondong - bondong menuju pemukiman yang jauh dari lembah tersebut, mereka berlarian menuju Ptochogeitonia, nama pemukiman yang susah disebut bahkan Klan Mata yang lain pun enggan menyebutnya, jika terpaksa menyebutnya mereka menyebut "tiko", yang berarti hina, tak ada kelas. Banyak yang percaya bahwa Klan Mata Hitam adalah keturunan setan, tuan segala keburukan dan kejahatan, karena itu klan tersebut dikutuk sehingga tidak memiliki kemampuan - kemampuan spesial seperti klan lainnya.

Radeya kembali ke rumahnya dengan rasa gembira, pekerjaannya telah selesai dan kini saatnya dia bisa bersantai. Ayah dan Ibunya telah lama meninggalkannya sebelum dia lahir, begitu anggapannya setelah mendengar gosip - gosip yang beredar di Tiko. Radeya dari kecil di rawat oleh sepasang suami istri yang dia anggap sebagai kakek dan neneknya. Kakek Suta dan nenek Sona, begitu Radeya memanggil mereka. Radeya dirawat dengan penuh kasih dan sayang dan sekarang dia tumbuh menjadi anak yang cekatan dan selalu bersemangat.

Sungguh jika melihat sebenarnya pemukiman Tiko yang dikabarkan sarang segala keburukan tersebut, jika klan Mata yang lain mau sekedar mampir dan tinggal barang sehari dua hari, mereka pasti kebingungan apa yang selama ini sudah mereka percayai dan patuhi. Sebuah klan yang tidak ada harganya, bisa hidup damai dalam satu pemukiman kumuh tersebut. Tapi itu adalah hal yang mustahil, peraturan yang sudah berlaku selama 99 Dzuwa, yaitu klan Mata apapun diperbolehkan mengunjungi satu sama lain, kawin antar klan, membentuk ikatan keluarga, saudara, atau hanya sekedar pertemanan kecuali bagi Klan Mata Hitam. Peraturan kerajaan mengatakan, Pemukiman Ptochogeitonia hanya untuk Klan Mata Hitam dan tidak ada seorangpun dari klan lain diperbolehkan memasukinya, jika ada yang melanggar maka mata dari orang melanggar tersebut dicopot secara paksa dan digantikan dengan tanah yang dibakar sampai berwarna hitam, pelanggar akan menjadi anggota Klan Mata Hitam Selamanya dan nyawanya tidak berharga sama sekali, dia dianggap sudah terpengaruh roh setan, moyang dari Klan Mata Hitam.

"Kakek, nenek...aku pulang" Sorak Radeya sambil berlari mencium pipi nenek Sona dan tangan kakek Suta. "Cucuku, makanlah ada sedikit nasi dan air tersisa untukmu, kami sudah kenyang makan tadi" Sambut nenek Sona sambil tersenyum. Radeya duduk bersila sambil makan dengan lahap makanan yang disisakan untuk dia, "Radeya cucuku, kenapa pelipismu?" Tanya kakek Suta, "Tidak apa - apa kek, kena pecahan batu kuil tadi, tenang saja kek" Jawab Radeya sambil mengunyah nasinya. Sepasang kakek nenek pun tersenyum sambil mengelus cucu satu - satunya itu, cucu yang ditinggalkan untuk mereka, cucu yang tidak rahasia sebenarnya siapa dia sendiri karena selalu mereka simpan berdua rapat - rapat, cucu yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan harapan. Katup pulau Chapda perlahan menutup rapat. Menandakan waktunya istirahat bagi semua penghuni pulau tersebut.


Pagi,
Katup pulau Chapda mulai terbuka perlahan - lahan seiring detak sang Kalpa, Radeya membuka matanya bergegas bangun dan berlari menuju Sustento, kolam satu – satunya di pemukiman Tiko yang luas dan airnya selalu jernih. Namun tidak bagi orang luar Tiko, mereka melihat air Sustento tak lebih dari air comberan dengan aroma yang menusuk hidung. Itulah yang menjadi masih misteri bagi semua yang ada di situ, entah karena apa.

Radeya mandi dengan cepat, khawatir terlambat untuk kerja (rodi) hariannya karena sang Kalpa sudah mulai berdetak cepat dan Brgadora mulai meniup terompet tanda mulainya pekerjaan. Kuil yang sudah setengah jadi menunggu untuk diselesaikan secepatnya, karena sang Kaisar sudah tak sabar untuk mengadakan upacara di kuil tersebut demi langgengnya kekuasaannya yang telah berlangsung selama 45 Dzuwa karena hanya dia Kaisar pertama dan satu – satunya untuk saat ini yang berasal dari Klan Mata Kuning. Klan Mata Kuning sendiri kebanyakan berprofesi sebagai pegawai sipil dan tidak ada kecuali sang Kaisar sekarang yang memegang tampuk pemerintahan. Sebelum Bisbasta sang Kaisar saat ini, secara turun temurun yang menjadi kaisar selalu dari Klan Mata Putih, sebab hanya klan tersebut yang dianggap mempunyai darah murni Dewa dan mempunyai penglihatan akan masa depan bangsa Planet Mata. Tetapi sekitar 45 tahun yang lalu, seseorang yang seharusnya menjadi kaisar sebelumnya, bernama Yajaka malah menghilang dari kerajaan dan tidak ada kabar sama sekali sampai saat ini. Akhirnya dewan Mata berunding dan bermusyawarah untuk mencari pengganti Yajaka. Namun saat musyawarah perundingan berlangsung, bencana yang tidak terduga melanda dan memporak porandakan Motu Paia, pulau tempat tinggal Klan Mata Putih, Meteor menghantam membakar semua yang ada di Motu Paia. Menyisakan tanah yang gersang tanpa ada satu makhluk hidup. Anggota dewan dari Klan Mata Putih, Hekima Yang Bijak tak kuasa menahan rasa sedihnya, keluarganya, teman – temannya ,satu klannya semua musnah dan meninggalkan dia dan Yajaka yang tak ada kabar entah kemana. Karena rasa sedih yang berkepanjangan, Hekima memutuskan untuk membangun kuil di bukit Fovea dengan tangannya sendiri tanpa bantuan klan lain dan mengasingkan diri di sana hingga saat ini. Dengan rasa duka yang masih mendalam, akhirnya Dewan Mata memutuskan untuk memilih Bisbasta dari Klan Mata Kuning, dia merupakan Asisten kepercayaan Sang Kaisar sebelumnya. Sebelum rancangan keputusan hukum sang Kaisar di presentasikan di depan para anggota Dewan Mata, selalu dia diskusikan dahulu dengan Bisbasta. Karena itu Dewan percaya bahwa Bisbasta merupakan pengganti Kaisar yang sangat tepat. Bisbasta memerintah bangsa Mata dengan adil dan makmur, semua pendapat wakil Klan dia dengarkan, tak terkecuali bagi Klan Mata Hitam yang dianggap keturunan iblis. selama kepemimpinannya tidak ada gesekan yang sampai menimbulkan kerusuhan antar klan hingga 45 Dzuwa lamanya.

“Selamat pagi master” sapa Radeya dengan ceria ke Brgadora seraya cepat mengambil batu – batu yang sudah menumpuk hasil tambangan pekerja lainnya. Brgadora pun membalasnya dengan senyuman sebentar saja dan langsung berteriak “Hei…cepat kerja anak kecil”. Rutinitas Pekerja Klan Mata Hitam dan Klan Mata Merah pun berlangsung.

Sudah 7 Mwezi rutinitas berlangsung dan akhirnya kuil telah berdiri dengan kokoh. Tiba saatnya sang Kaisar meresmikan kuil tersebut, semua klan Mata diundang untuk peresmiannya. Kuil tersebut diberi nama Bisbasta Zhitixo, karena sang Kaisar merasa dialah yang diturunkan para Dewa untuk memimpin bangsa Mata ke puncak kejayaannya. Hekima yang diundang pada perayaan pembukaan kuil tersebut hanya tersenyum kecil, dan tak lama pamit untuk kembali ke kuilnya sendiri melanjutkan semedi. Radeya yang melihat senyuman Hekima Yang Bijak, begitu julukannya menjadi penasaran apa maksudnya karena dia percaya Klan Mata Putih mampu melihat masa depan. Radeya pun diam – diam mengikuti Hekima ke dalam kuilnya, saat hendak bersemedi Radeya mengucap salam permisi mengganggu dan menunda sebentar semedi Hekima yang tak marah ketika mendengar salam Radeya dan mempersilahkan masuk, duduk serta bertanya apa maksud kedatangan anak kecil dari Klan Mata Hitam ini. “Kakek Hekima, maafkan kalau saya lancang. Saya tadi melihat kakek tersenyum kecil saat Sang Kaisar memotong pita peresmian Kuil Zhitixo, saya percaya kakek telah melihat peristiwa yang akan terjadi di masa depan nantinya dan saya ingin tahu kek karena saya sangat penasaran sekali, jadi mohon dengan sangat kek” Pinta Radeya. Hekima pun tersenyum kecil lagi dan berkata “Mungkin bila saatnya tiba kamu akan mengetahui sendiri maksud kakek dengan melihat dengan matamu sendiri nak”, “Apa? Saya kan bukan dari Klan Mata Putih kek, mana mungkin saya bisa melihat masa depan?” Balas Radeya dan rasa penasarannya pun makin menjadi jadi. Sambil memalingkan tubuhnya dari Radeya dan mulai memejamkan matanya, Hekima pun bergumam “Terima kasih Dewa telah menyadarkanku, bahwa aku dan Yajaka yang Hilang bukanlah Klan Mata Putih yang masih tersisa, ternyata Klan Mata Putih selama ini masih hidup dan banyak jumahnya”. “Apa?” Radeya berteriak kencang namun hanya kesunyian yang membalasnya, Hekima yang Bijak telah mulai semedinya. Tak lama Radeya keluar dari kuil Hekima dengan dirundung rasa penasaran dan berbagai tanda Tanya dari dirinya.

Radeya pun kembali ke Pemukiman Tiko.

Bagian II Motu Paia…Trim dan Pridd Yang Perkasa Sesampai di rumah, Radeya segera mencari Kakeknya, Suta. Dirundung rasa penasaran...