Bagian II
Motu Paia…Trim dan Pridd Yang Perkasa
Sesampai
di rumah, Radeya segera mencari Kakeknya, Suta. Dirundung rasa penasaran tanpa
basa – basi Radeya menceritakan peristiwa yang baru dialaminya kepada Suta
“Kakek, saya tadi dari kuil Kakek Hekima yang Bijak, beliau berkata ternyata
Kakek Hekima dan Yajaka yang Hilang bukanlah anggota Klan Mata Putih yang
tersisa. Klan Mata Putih masih hidup dengan banyak jumlahnya, apa maksudnya
kakek?” Tanya Radeya. “Suatu saat cucuku, kamu akan menemukan jawabannya jika
kamu sudah tahu mengapa air danau Sustento selalu jernih” Jawab Suta. Rasa
penasaran Radeya pun semakin menjadi jadi “Mengapa air danau Sustento selalu
jernih kek?”, “Maka cari tahulah apa yang akan kamu ketahui”, “Apa? Kakek sama
seperti Kakek Hekima, buat saya makin penasaran saja”, “Setidaknya perkataanku
dan Hekima jadi petunjukmu cucuku, pergilah keluar dan cari tahu, carilah
jawaban dari seluruh penjuru Planet Mata”. Radeya pun pamit pergi dari kakek
dan neneknya, dengan bekal seadanya dia menuju pelabuhan Isango, pusat
berlabuhnya kapal – kapal di Pulau Chapda. Tujuan pertama dia adalah pulau
gersang Motu Paia.
Isango,
pelabuhan tertua dan terbesar yang ada di pulau Chapda, pusat distribusi
transisi komoditas perdagangan dari seluruh pulau – pulau planet Mata. Dari
pelabuhan yang berusia kurang lebih 1000 Dzuwa inilah para klan planet Mata menyebar
dan membangun peradaban di pulau – pulau luar Chapda, termasuk Motu Paia.
Radeya
dengan semangatnya menuju dermaga tujuan Motu Paia, terletak paling ujung dari
keseluruhan dermaga Isango. Sesampainya di dermaga tersebut, Radeya bertanya ke
seorang tua bernama Trim, kapten kapal satu – satunya tujuan Motu Paia, Pridd.
“Kakek, berangkat jam berapa kah nanti?” Tanya Radeya, “Oh, umurmu berapa nak?”
Trim balik bertanya, “Anak berumur 15 Dzuwa kebawah harus ada pendamping jika
mau naik kapal saya” lanjut dia. “Tenang kek, umur saya 17 Dzuwa saat kuil
Zhitixo belum berdiri, saya ikut pembangunan kuil tersebut, jadi saya sekarang
sudah hamper 18 Dzuwa. Tak perlu lagi pendamping kek” Sahut Radeya. “Jadi,
biayanya 500 Okopara anak muda. Kamu punya?” Tanya Trim lagi. “Emmmm, saya
hanya punya 350 Okopara kek, untuk kekurangannya saya bisa bekerja di kapal
selama perjalanan ke Motu Paia” Jawab Radeya “Saya bisa bekerja apa saja kek”
Timpal dia lagi. “Baiklah jika itu maumu, sebentar lagi kita berangkat, masih menunggu
ada satu orang lagi dari bukit Fovea” Kata Trim. “Bukit Fovea? Bukankah itu
tempat tinggal kakeh Hekima Yang Bijak?” Tanya Radeya sambil mngernyitkan dahi.
“Ehmmmm, nanti kamu tahu sendiri nak. Sekarang bersihkan dulu kursi penumpang
untuk kerja awalmu” Sahut Trim. “Baik kek” Jawab Radeya, segera dia pergi ke
kapal untuk bekerja.
Tak lama
setelah Radeya naik Pridd, datanglah seorang tua berjalan dengan tongkat di
tangan kanannya, sambil menyibak jubahnya dia berkata “Maaf membuatmu menunggu
lama”, “Oh, tak apa kawanku. Kapal juga masih dibersihkan kok” Sahut Trim
sambil memeluk orang tua berjubah tadi “Bagaimana kabarmu? Tidak biasanya kamu
keluar dari kuilmu dan mendadak pergi ke Motu Paia”, “Hehehe, meski ubanku
lebih banyak darimu saya masih kuat jalan kaki dari Fovea ke Isango sini, nanti
kau akan tahu sendiri Trim. Anak yang kau suruh bersihkan kapal itulah
jawabannya, hahahaha” Sambil mengelus jenggotnya, Hekima Yang Bijak terkekeh
kekeh, “Kau memang penuh misteri kawan” gumam Trim “Marilah kita berangkat,
kapal sudah siap”, “Hei para Malakas, siapkan layarnya! Kita berangkat
sekarang” Perintah Trim ke anak buahnya. Perjalanan ke Motu Paia dimulai.
“Kakek
Hekima!!” Pekik Radeya seraya bergegas menghampiri Hekima Yang Bijak dan segera
mencium tangannya sebagai tanda hormat, “Kenapa kakek keluar dari kuil?
Bukankah kakek selalu berada disana tak pernah keluar kecuali diundang kaisar”
Tanya Radeya penasaran, “Hehe, jadi kamu ke Motu Paia juga nak?” sambil
terkekeh Hekima Yang Bijak malah bertanya balik ke Radeya. “Kakek Hekima belum
jawab pertanyaan saya. Saya ke Motu Paia karena kakek Suta bilang saya akan
menemukan jawaban rasa penasaran di seluruh penjuru planet ini, saya mulai dari
sana” Sahut Radeya dengan rasa penasaran yang menjadi – jadi. “Setelah kita
berlabuh di Motu Paia, kamu ikut aku nak, rasa penasaranmu akan terjawab
nantinya” Jawab Hekima. Kapal berlayar perlahan – lahan meninggalkan pulau
Chapda yang katupnya mulai menutup. Sang Kalpa berdetak pelan mengiringi
perjalanan mereka mengarungi Samudera Vitreous yang luas.
Samudera
Vitreous,
Lautan
yang menyelimuti hampir keseluruhan planet Mata, sumber kehidupan maupun
pelindung, penghubung pulau – pulau di dalamnya. Samudera maha luas dengan air
yang tenang namun siap memangsa para pelaut – pelaut yang lemah dan terlena.
Katup
pulau Chapda telah menutup, Sang Kalpa berdetak konstan pelan, Pridd terus
berjalan mengangkut penumpang – penumpangnya. Sang kapten, Trim terus terjaga
memegang kendali kapal. Malam itu, Radeya tidak bisa memejamkan matanya sama
sekali, rasa lelah setelah bekerja sambilan di kapal tak membuatnya mengantuk
karena rasa penasarannya belum terjawab, dia sudah tidak sabar ingin segera
sampai di Motu Paia. Dia bangkit dari ranjangnya, keluar dari kamar dan segera
menuju anjungan tempat Kapten Trim mengemudikan Pridd. “Hei nak, kau tak
tidur?” Tanya Trim, “Saya tidak bisa tidur kek, rasa penasaran saya semakin
menjadi – jadi gara – gara siang tadi” Jawab Radeya. “Yasudah pegang kemudi ini
dulu kalau begitu nak” Perintah Trim, Sanggah Radeya “Tapi kek, saya belum
pernah…”, “Tenang saja nak, saya dibelakang mu mau istirahat sebentar. Sudah
pegang ini nak” Potong Trim sebelum Radeya melanjutkan sanggahannya, “Baiklah
kalo itu begitu kek” Sahut Radeya segera dia memegang roda kemudi kapal. “Sudah
lama memegang kapal ini kek?” Tanya Radeya berbasa – basi, “Kapal ini lahir
karenaku nak, jadi jangan tanya tentangku. Tanyalah tentang kapal ini” Jawab
Trim.
“Maksudnya
kek? Kakek Trim yang membuat kapal ini?”,
“Itu
benar nak, saya jugalah yang menamai kapal ini, Pridd Yang Perkasa Sang
Pembelah Samudera. Kapal ini dulu mengangkut anggota Klan Mata Putih yang ingin
ke Chapda atau sebaliknya pulang ke Motu Paia, sampai bencana itu terjadi. Saya
juga tidak mengerti mengapa meteor sebesar itu tidak terdeteksi sensor Zid. Para
penjaga Zid juga tidak tahu mengapa meteor itu bisa melewati sensor super
mereka. Yang aneh, meteor itu ikut lenyap bersama lenyapnya peradaban Motu
Paia. Tidak ada jejak sama sekali, tidak ada yang bisa diselidiki sama sekali,
semua masih jadi misteri hingga sekarang, saya pun perlahan mulai melupakannya
nak, biarlah itu menjadi dongeng cerita yang bisa kita ambil hikmahnya. Klan
Mata Putih yang tersisa pun hanya bisa pasrah diam menerima segala kenyataan
itu. Kawanku, Hekima Yang Bijak pun tidak bisa kutanyai lebih dalam, yasudahlah…Eh
nak, coba cek arah kapal itu masih sesuai jalur tidak?”
“Oh iya
kek, saya lupa. Hampir kita melenceng dari jalur, maafkan saya kek” Pinta
Radeya, “Taka apa nak, itu sudah bagus untuk seorang yang baru mengemudi kapal
sehebat ini” Sahut Trim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar