Bagian I
Kasta tak bernama…Seorang
anak bernama Radeya
Pulau
Chapda, 299 Dzuwa
Bising
roda menderu menggelinding membawa kereta bermuatan pasir menuju bukit Kornea,
pembangunan kuil masih berlanjut. Deretan budak - budak dari Klan Mata Hitam
bekerja dengan peluh di sekujur tubuhnya, siang itu sang Kalpa berdenyut
kencang, sinarnya menyengat menghanguskan hewan - hewan pengurai yang
bermunculan ke permukaan karena tanah yang panas. "Plasss" suara
cambukan pengawas bernama Brgadora dari Klan Mata Merah mengenai pelipis
seorang anak muda, kira - kira berumur 15 Dzuwa. Radeya, nama anak itu tidak
mengindahkan cambukan yang melukainya, dia terus berjalan walaupun
kerongkongannya kering dan sempat terjatuh, sebab dia kena cambukan tadi.
"Jalan
terus bodoh!!! Tak ada minum sebelum tumpukan batu itu setinggi 23 hasta",
teriak Brgadora menegaskan peraturannya. Berduyun - duyun budak - budak
menumpuk batu yang sudah dipikulnya itu, tak ketinggalan Radeya juga melakukan
hal yang sama, kemudian dia menghitungnya dan seketika matanya yang hitam
berbinar sekejap berwarna terang walau tak ada yang menyadarinya. Dia bersorak
kegirangan karena tumpukan batu sudah setinggi lebih dari 23 hasta "25
hasta!! 25 hasta!!", Sorak dia. Seketika budak - budak berlarian menuju
kolam berlomba - lomba meminum airnya. Brgadora yang dari tadi berdiri
mengawasi budak - budak itu juga berlari ke arah kolam air tersebut. Sembari
mengunyah daging bakar yang di bawanya, Brgadora mengambil 1 gentong air buat
dia minum. Sungguh, meskipun Brgadora seorang pengawas pekerjaan, dia juga tak
bisa minum sebelum target tinggi batu 23 hasta belum tercapai. Sebagai anggota
Klan Mata Merah yang menjunjung tinggi kesetiaan dan tanggung jawab, dia selalu
mendahulukan tugasnya sebagai seorang prajurit dan selalu melaksanakan perintah
yang diberikan kepadanya. "Maafkan aku tadi nak, aku tak bermaksud
melukaimu" Gumam Brgadora di telinga Radeya sambil meminum air yang
diambilnya tadi. "Tidak apa - apa pak tua, itu sudah kewajibanmu. Bagi
kami, klan dengan tingkatan terendah ini, hanya klan kalianlah yang selalu
dekat dan mengerti kami" Balas Radeya.
Denyut sang
Kalpa sudah mulai pelan, dan sinarnya mulai meredup, menandakan pekerjaan
pembangunan kuil di bukit Kornea harus diberhentikan sementara, gelap mulai
menyelimuti sebagian planet Mata, katup pulau Chapda mulai menutup. Semua klan
yang ada di pulau tersebut mulai menuju tempat peristirahatan masing - masing.
Klan Mata Merah kembali ke barak pemukiman Dzimba barat daya bukit Kornea.
Sedang klan Mata Hitam, klan yang dianggap tak berharga selain menjadi budak
pekerja, berbondong - bondong menuju pemukiman yang jauh dari lembah tersebut,
mereka berlarian menuju Ptochogeitonia, nama pemukiman yang susah disebut
bahkan Klan Mata yang lain pun enggan menyebutnya, jika terpaksa menyebutnya
mereka menyebut "tiko", yang berarti hina, tak ada kelas. Banyak yang
percaya bahwa Klan Mata Hitam adalah keturunan setan, tuan segala keburukan dan
kejahatan, karena itu klan tersebut dikutuk sehingga tidak memiliki kemampuan -
kemampuan spesial seperti klan lainnya.
Radeya
kembali ke rumahnya dengan rasa gembira, pekerjaannya telah selesai dan kini
saatnya dia bisa bersantai. Ayah dan Ibunya telah lama meninggalkannya sebelum
dia lahir, begitu anggapannya setelah mendengar gosip - gosip yang beredar di
Tiko. Radeya dari kecil di rawat oleh sepasang suami istri yang dia anggap
sebagai kakek dan neneknya. Kakek Suta dan nenek Sona, begitu Radeya memanggil
mereka. Radeya dirawat dengan penuh kasih dan sayang dan sekarang dia tumbuh
menjadi anak yang cekatan dan selalu bersemangat.
Sungguh
jika melihat sebenarnya pemukiman Tiko yang dikabarkan sarang segala keburukan
tersebut, jika klan Mata yang lain mau sekedar mampir dan tinggal barang sehari
dua hari, mereka pasti kebingungan apa yang selama ini sudah mereka percayai
dan patuhi. Sebuah klan yang tidak ada harganya, bisa hidup damai dalam satu
pemukiman kumuh tersebut. Tapi itu adalah hal yang mustahil, peraturan yang
sudah berlaku selama 99 Dzuwa, yaitu klan Mata apapun diperbolehkan mengunjungi
satu sama lain, kawin antar klan, membentuk ikatan keluarga, saudara, atau
hanya sekedar pertemanan kecuali bagi Klan Mata Hitam. Peraturan kerajaan
mengatakan, Pemukiman Ptochogeitonia hanya untuk Klan Mata Hitam dan tidak
ada seorangpun dari klan lain diperbolehkan memasukinya, jika ada yang
melanggar maka mata dari orang melanggar tersebut dicopot secara paksa dan
digantikan dengan tanah yang dibakar sampai berwarna hitam, pelanggar akan
menjadi anggota Klan Mata Hitam Selamanya dan nyawanya tidak berharga sama
sekali, dia dianggap sudah terpengaruh roh setan, moyang dari Klan Mata Hitam.
"Kakek,
nenek...aku pulang" Sorak Radeya sambil berlari mencium pipi nenek Sona
dan tangan kakek Suta. "Cucuku, makanlah ada sedikit nasi dan air tersisa
untukmu, kami sudah kenyang makan tadi" Sambut nenek Sona sambil
tersenyum. Radeya duduk bersila sambil makan dengan lahap makanan yang
disisakan untuk dia, "Radeya cucuku, kenapa pelipismu?" Tanya kakek
Suta, "Tidak apa - apa kek, kena pecahan batu kuil tadi, tenang saja
kek" Jawab Radeya sambil mengunyah nasinya. Sepasang kakek nenek pun
tersenyum sambil mengelus cucu satu - satunya itu, cucu yang ditinggalkan untuk
mereka, cucu yang tidak rahasia sebenarnya siapa dia sendiri karena selalu
mereka simpan berdua rapat - rapat, cucu yang mereka rawat dengan penuh kasih
sayang dan harapan. Katup pulau Chapda perlahan menutup rapat. Menandakan
waktunya istirahat bagi semua penghuni pulau tersebut.
Pagi,
Katup pulau Chapda mulai terbuka perlahan - lahan seiring detak
sang Kalpa, Radeya membuka matanya bergegas bangun dan berlari menuju Sustento,
kolam satu – satunya di pemukiman Tiko yang luas dan airnya selalu jernih.
Namun tidak bagi orang luar Tiko, mereka melihat air Sustento tak lebih dari
air comberan dengan aroma yang menusuk hidung. Itulah yang menjadi masih
misteri bagi semua yang ada di situ, entah karena apa.
Radeya mandi dengan cepat, khawatir terlambat untuk kerja (rodi)
hariannya karena sang Kalpa sudah mulai berdetak cepat dan Brgadora mulai
meniup terompet tanda mulainya pekerjaan. Kuil yang sudah setengah jadi
menunggu untuk diselesaikan secepatnya, karena sang Kaisar sudah tak sabar
untuk mengadakan upacara di kuil tersebut demi langgengnya kekuasaannya yang
telah berlangsung selama 45 Dzuwa karena hanya dia Kaisar pertama dan satu –
satunya untuk saat ini yang berasal dari Klan Mata Kuning. Klan Mata Kuning
sendiri kebanyakan berprofesi sebagai pegawai sipil dan tidak ada kecuali sang
Kaisar sekarang yang memegang tampuk pemerintahan. Sebelum Bisbasta sang Kaisar
saat ini, secara turun temurun yang menjadi kaisar selalu dari Klan Mata Putih,
sebab hanya klan tersebut yang dianggap mempunyai darah murni Dewa dan
mempunyai penglihatan akan masa depan bangsa Planet Mata. Tetapi sekitar 45
tahun yang lalu, seseorang yang seharusnya menjadi kaisar sebelumnya, bernama
Yajaka malah menghilang dari kerajaan dan tidak ada kabar sama sekali sampai
saat ini. Akhirnya dewan Mata berunding dan bermusyawarah untuk mencari pengganti
Yajaka. Namun saat musyawarah perundingan berlangsung, bencana yang tidak
terduga melanda dan memporak porandakan Motu Paia, pulau tempat tinggal Klan Mata
Putih, Meteor menghantam membakar semua yang ada di Motu Paia. Menyisakan tanah
yang gersang tanpa ada satu makhluk hidup. Anggota dewan dari Klan Mata Putih,
Hekima Yang Bijak tak kuasa menahan rasa sedihnya, keluarganya, teman –
temannya ,satu klannya semua musnah dan meninggalkan dia dan Yajaka yang tak
ada kabar entah kemana. Karena rasa sedih yang berkepanjangan, Hekima
memutuskan untuk membangun kuil di bukit Fovea dengan tangannya sendiri tanpa
bantuan klan lain dan mengasingkan diri di sana hingga saat ini. Dengan rasa
duka yang masih mendalam, akhirnya Dewan Mata memutuskan untuk memilih Bisbasta
dari Klan Mata Kuning, dia merupakan Asisten kepercayaan Sang Kaisar
sebelumnya. Sebelum rancangan keputusan hukum sang Kaisar di presentasikan di
depan para anggota Dewan Mata, selalu dia diskusikan dahulu dengan Bisbasta.
Karena itu Dewan percaya bahwa Bisbasta merupakan pengganti Kaisar yang sangat
tepat. Bisbasta memerintah bangsa Mata dengan adil dan makmur, semua pendapat
wakil Klan dia dengarkan, tak terkecuali bagi Klan Mata Hitam yang dianggap
keturunan iblis. selama kepemimpinannya tidak ada gesekan yang sampai
menimbulkan kerusuhan antar klan hingga 45 Dzuwa lamanya.
“Selamat pagi master” sapa Radeya dengan ceria ke Brgadora seraya
cepat mengambil batu – batu yang sudah menumpuk hasil tambangan pekerja
lainnya. Brgadora pun membalasnya dengan senyuman sebentar saja dan langsung
berteriak “Hei…cepat kerja anak kecil”. Rutinitas Pekerja Klan Mata Hitam dan
Klan Mata Merah pun berlangsung.
Sudah 7 Mwezi rutinitas berlangsung dan akhirnya kuil telah
berdiri dengan kokoh. Tiba saatnya sang Kaisar meresmikan kuil tersebut, semua
klan Mata diundang untuk peresmiannya. Kuil tersebut diberi nama Bisbasta
Zhitixo, karena sang Kaisar merasa dialah yang diturunkan para Dewa untuk
memimpin bangsa Mata ke puncak kejayaannya. Hekima yang diundang pada perayaan
pembukaan kuil tersebut hanya tersenyum kecil, dan tak lama pamit untuk kembali
ke kuilnya sendiri melanjutkan semedi. Radeya yang melihat senyuman Hekima Yang
Bijak, begitu julukannya menjadi penasaran apa maksudnya karena dia percaya
Klan Mata Putih mampu melihat masa depan. Radeya pun diam – diam mengikuti
Hekima ke dalam kuilnya, saat hendak bersemedi Radeya mengucap salam permisi
mengganggu dan menunda sebentar semedi Hekima yang tak marah ketika mendengar
salam Radeya dan mempersilahkan masuk, duduk serta bertanya apa maksud
kedatangan anak kecil dari Klan Mata Hitam ini. “Kakek Hekima, maafkan kalau
saya lancang. Saya tadi melihat kakek tersenyum kecil saat Sang Kaisar memotong
pita peresmian Kuil Zhitixo, saya percaya kakek telah melihat peristiwa yang
akan terjadi di masa depan nantinya dan saya ingin tahu kek karena saya sangat
penasaran sekali, jadi mohon dengan sangat kek” Pinta Radeya. Hekima pun
tersenyum kecil lagi dan berkata “Mungkin bila saatnya tiba kamu akan
mengetahui sendiri maksud kakek dengan melihat dengan matamu sendiri nak”,
“Apa? Saya kan bukan dari Klan Mata Putih kek, mana mungkin saya bisa melihat
masa depan?” Balas Radeya dan rasa penasarannya pun makin menjadi jadi. Sambil
memalingkan tubuhnya dari Radeya dan mulai memejamkan matanya, Hekima pun
bergumam “Terima kasih Dewa telah menyadarkanku, bahwa aku dan Yajaka yang
Hilang bukanlah Klan Mata Putih yang masih tersisa, ternyata Klan Mata Putih
selama ini masih hidup dan banyak jumahnya”. “Apa?” Radeya berteriak kencang
namun hanya kesunyian yang membalasnya, Hekima yang Bijak telah mulai
semedinya. Tak lama Radeya keluar dari kuil Hekima dengan dirundung rasa
penasaran dan berbagai tanda Tanya dari dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar